nisan tidak bernama
Ini entri yang pertama,
Namun bertahun sudah aku berkarya,
Bukan untuk dibaca sesiapa,
Tetapi kini, di ruang ini, aku tuliskan semua.
Tatkala dibendung rasa,
Aku bebaskan dengan kata,
Lidah kelu, aku gunakan tinta,
Bukan nyata tapi yang maya.
Dia yang mengajar aku sastera,
Puisi dan pantun isi diarinya,
Setiap bibit kata yang ku baca,
Ada wajah yang menghantui minda.
Batu nisanmu tidak bernama,
Tidak mahu kuburmu diratap manusia,
Namun kisahmu ingin ku cerita,
Buat teladan semua yang membaca.
Kita bukan orang berada,
Tidak juga papa kedana,
Keringatmu membawa jaya,
Buat anak-anakmu bertiga.
Ditakdirkan ajalmu tiba,
Belum sempat aku menebus jasa,
Sedih dan sesal aku pikul bersama,
Setiap tawa hadirnya duka.
Bukan maksudku tidak redha,
Tenangmu disana selalu ku doa,
Akan aku teruskan kembara,
Mengharapkan rahmat yang Maha Esa.
Pada tahun ke-dua puluh dua,
Aku rasakan singkatnya usia,
Mencari bahagia akan aku usaha,
Dalam menghitung hari kita
bersua semula.


Comments
Post a Comment